7 Penyebab Urusan Hidup Menjadi Berantakan
Kesulitan hidup seharusnya mendorong seorang Muslim untuk bermuhasabah dan memperbaiki hubungannya dengan Allah ﷻ. Artikel ini membahas tujuh perkara yang dapat menyebabkan urusan hidup kehilangan keberkahan, mulai dari kemaksiatan, lemahnya ketakwaan, hingga terlalu banyak berdebat.
Nikmat terbesar yang Allah ﷻ berikan kepada seorang hamba adalah nikmat iman dan Islam. Melalui nikmat tersebut, seseorang dapat mengenal Rabb-nya, melaksanakan ketaatan, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian.
Namun, tidak semua urusan hidup berjalan sebagaimana yang diharapkan. Ada kalanya seseorang menghadapi kesulitan, kegelisahan, keretakan keluarga, hambatan pekerjaan, atau berbagai persoalan yang membuat hidup terasa berantakan.
Dalam khutbah Jumatnya, Ustadz Abu Uwais Abrar, S.Ag. mengajak kaum Muslimin untuk tidak hanya melihat penyebab lahiriah suatu masalah. Seorang mukmin juga perlu bermuhasabah, memperbaiki hubungannya dengan Allah ﷻ, serta menjauhi perkara yang dapat menghilangkan keberkahan hidup.
Kehidupan Dunia Adalah Awal Perjalanan
Setiap manusia menginginkan kemudahan dalam urusan dunia. Akan tetapi, kebutuhan manusia terhadap pertolongan Allah ﷻ tidak berhenti ketika kehidupan dunia berakhir.
Kematian akan mengantarkan manusia menuju alam barzakh, kemudian kehidupan akhirat. Karena itu, kemudahan terbesar bukan sekadar kelancaran pekerjaan, keluasan rezeki, atau terbebas dari persoalan dunia. Kemudahan terbesar adalah ketika Allah ﷻ menjaga seorang hamba dalam perjalanan menuju akhirat dan memasukkannya ke dalam surga dengan rahmat-Nya.
Sayangnya, sedikit kesulitan dunia terkadang membuat manusia berkeluh kesah. Bahkan, ada orang yang rela mengorbankan keimanan dan melanggar ketentuan Allah demi memperoleh sesuatu yang bersifat sementara.
Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu mengenali beberapa penyebab urusan hidup menjadi berantakan agar dapat segera memperbaiki diri.
1. Terus Melakukan Kemaksiatan
Kemaksiatan dapat menghilangkan ketenangan, merusak keberkahan, serta menjadi salah satu sebab datangnya kesulitan.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَآ أَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
“Musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahanmu.”
(QS. Asy-Syura: 30)
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya introspeksi. Ketika ditimpa kesulitan, seorang mukmin tidak seharusnya hanya sibuk mencari kesalahan orang lain. Ia perlu memeriksa kembali hubungannya dengan Allah, kewajiban yang ditinggalkan, hak manusia yang belum ditunaikan, dan dosa yang belum disesali.
Muhasabah bukan berarti memastikan bahwa setiap musibah merupakan hukuman atas dosa tertentu. Musibah juga dapat menjadi ujian, penghapus dosa, atau sarana peningkatan derajat. Namun, ayat tersebut mengingatkan bahwa dosa dapat membawa akibat buruk, sedangkan Allah ﷻ telah memaafkan banyak kesalahan manusia.
Jalan perbaikannya adalah bertobat dengan sungguh-sungguh, meninggalkan dosa, menyesalinya, serta bertekad untuk tidak mengulanginya.
2. Meninggalkan Ketakwaan kepada Allah
Takwa berarti menjaga diri dari kemurkaan Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat ini memberikan harapan besar. Allah ﷻ mampu mendatangkan pertolongan dan rezeki dari arah yang tidak diperhitungkan manusia.
Takwa bukanlah cara instan untuk memperoleh kekayaan atau terbebas dari seluruh ujian. Orang bertakwa tetap dapat menghadapi kesulitan. Namun, Allah memberikan jalan keluar, kecukupan, bimbingan, dan kekuatan untuk melewati ujian tersebut.
Apabila urusan terasa semakin sempit, periksalah kembali ketakwaan kita. Mungkin ada kewajiban yang mulai disepelekan atau larangan yang dianggap biasa. Perbaikan takwa harus diwujudkan dalam salat, pekerjaan, keluarga, kejujuran, dan seluruh aktivitas kehidupan.
3. Berpaling dari Mengingat Allah
Seseorang mungkin memiliki banyak harta dan fasilitas, tetapi hatinya tetap merasa sempit karena jauh dari Allah.
Allah ﷻ berfirman:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Taha: 124)
Berpaling dari mengingat Allah bukan hanya meninggalkan zikir lisan. Maknanya juga mencakup berpaling dari wahyu, tidak memedulikan petunjuk-Nya, dan menjalani kehidupan tanpa menjadikan syariat sebagai pedoman.
Kehidupan yang sempit tidak selalu berarti kekurangan materi. Seseorang dapat memiliki penghasilan besar, rumah luas, dan kedudukan tinggi, tetapi tetap dihantui kecemasan serta ketidakpuasan.
Ketenangan sejati tumbuh ketika hati kembali kepada Allah. Membaca Al-Qur’an, menjaga salat, memperbanyak zikir, berdoa, dan menaati petunjuk-Nya merupakan jalan untuk menghidupkan hati.
4. Menjadikan Dunia sebagai Tujuan Utama
Islam tidak melarang manusia bekerja, menafkahi keluarga, dan melakukan ikhtiar yang halal. Kesalahan muncul ketika dunia berubah menjadi tujuan terbesar dalam kehidupan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ
“Barang siapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran berada di depan matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebatas yang telah ditetapkan untuknya.”
Dalam kelanjutan hadis tersebut dijelaskan bahwa siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, Allah akan menyatukan urusannya, memberikan kekayaan dalam hatinya, dan dunia mendatanginya dalam keadaan tunduk.
(HR. Ibnu Majah, no. 4105. Dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani)
Ketika dunia menjadi orientasi utama, seseorang tidak pernah merasa cukup. Semakin banyak yang diperoleh, semakin besar pula ketakutannya untuk kehilangan.
Seorang mukmin menjadikan dunia sebagai sarana. Harta, pekerjaan, jabatan, dan kemampuan digunakan untuk mencari keridaan Allah ﷻ. Orientasi utamanya adalah keselamatan akhirat dan surga-Nya.
5. Tergesa-gesa Mencapai Keinginan
Keinginan mendapatkan hasil sebelum waktunya sering mendorong seseorang menempuh jalan yang salah. Dalam mencari rezeki, misalnya, seseorang mungkin ingin segera kaya sehingga mengambil harta haram, melakukan penipuan, terlibat riba, atau menzalimi orang lain.
Hasil yang terlihat cepat tidak selalu membawa kebaikan. Sesuatu yang diperoleh melalui jalan terlarang dapat menghilangkan keberkahan dan mendatangkan persoalan yang lebih berat.
Dalam khazanah kaidah fikih dikenal ungkapan:
مَنْ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Barang siapa tergesa-gesa mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, ia dapat dihukum dengan tidak memperoleh sesuatu tersebut.”
Ungkapan tersebut merupakan kaidah fikih, bukan hadis Nabi ﷺ. Pesannya mengingatkan manusia agar tidak melanggar ketentuan Allah hanya karena ingin segera memperoleh hasil.
Kesabaran bukan berarti berhenti berusaha. Seorang Muslim tetap bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi menggunakan cara yang halal dan menerima bahwa setiap perkara memiliki waktu yang telah Allah tetapkan.
6. Melakukan Sesuatu Tanpa Ilmu
Niat baik saja belum cukup apabila cara yang ditempuh tidak benar. Ilmu agama membimbing seseorang dalam beribadah, mencari nafkah, berkeluarga, bermuamalah, dan mengambil keputusan.
Tanpa ilmu, seseorang mungkin menganggap sesuatu yang haram sebagai halal, meninggalkan kewajiban karena tidak mengetahuinya, atau melakukan sesuatu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ.
Karena itu, sebelum bertindak, seorang Muslim hendaknya belajar dan bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan. Jangan malu mengakui bahwa kita belum mengetahui suatu perkara. Mengakui keterbatasan lebih selamat daripada berbicara atau bertindak tanpa dasar.
Amal yang dilandasi ilmu akan lebih terarah. Seseorang memahami tujuannya, mengetahui batasan syariat, serta dapat mempertimbangkan manfaat dan mudarat dari tindakannya.
7. Terlalu Banyak Berdebat
Perdebatan yang tidak disertai keikhlasan dan adab dapat menimbulkan permusuhan, mengeraskan hati, serta menghilangkan keberkahan ilmu.
Diriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ keluar untuk memberitahukan waktu Lailatulqadar. Namun, ketika itu dua orang Muslim sedang berselisih.
Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa beliau keluar untuk mengabarkan waktu Lailatulqadar, tetapi pengetahuan tersebut diangkat karena perselisihan dua orang tersebut. Beliau kemudian memerintahkan kaum Muslimin untuk mencarinya pada malam-malam ganjil yang disebutkan dalam hadis.
(HR. Al-Bukhari, no. 2023)
Hadis ini menunjukkan salah satu akibat buruk perselisihan. Sebuah pengetahuan yang bermanfaat dapat terhalang karena pertengkaran.
Tidak semua diskusi termasuk perdebatan tercela. Diskusi untuk mencari kebenaran tetap diperlukan selama dilakukan berdasarkan ilmu, keikhlasan, dan adab.
Yang harus dijauhi adalah perdebatan untuk memenangkan diri, mempermalukan lawan bicara, atau mempertahankan pendapat meskipun kebenaran telah terlihat. Apabila sebuah percakapan sudah tidak lagi mendatangkan manfaat, meninggalkannya sering kali lebih baik.
Cara Memperbaiki Urusan yang Berantakan
Ketika menghadapi persoalan, seorang Muslim tetap harus melakukan ikhtiar lahiriah. Masalah keluarga perlu diselesaikan dengan komunikasi yang baik. Kesulitan pekerjaan harus dihadapi dengan perencanaan dan usaha. Kesalahan dalam muamalah harus diperbaiki dengan mengembalikan hak kepada pemiliknya.
Pada saat yang sama, perbaikan hubungan dengan Allah tidak boleh diabaikan. Bertobatlah dari kemaksiatan, tingkatkan ketakwaan, jaga salat, perbanyak zikir, dan jadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Berusahalah dengan sabar melalui jalan yang halal. Pelajari ilmu yang diperlukan sebelum bertindak dan jauhi perdebatan yang tidak mendatangkan manfaat.
Muhasabah hendaknya dimulai dari diri sendiri. Jangan menggunakan pembahasan ini untuk menghakimi orang lain atau memastikan bahwa musibah mereka terjadi karena dosa tertentu. Kita tidak mengetahui rahasia ketetapan Allah terhadap setiap hamba.
Penutup
Penyebab urusan hidup berantakan tidak selalu dapat dilihat hanya dari keadaan lahiriah. Di balik persoalan yang dihadapi, mungkin terdapat hubungan dengan Allah yang perlu diperbaiki.
Kemaksiatan, lemahnya ketakwaan, berpaling dari petunjuk Allah, menjadikan dunia sebagai tujuan, tergesa-gesa, bertindak tanpa ilmu, dan terlalu banyak berdebat merupakan perkara yang patut dijauhi.
Semoga Allah ﷻ mengampuni dosa-dosa kita, menerima tobat kita, memperbaiki keadaan kita, dan menyatukan urusan kita dalam kebaikan. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam kehidupan dunia, alam barzakh, dan akhirat serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya.
Sumber Kajian
Pemateri: Ustadz Abu Uwais Abrar, S.Ag.
Kajian: Khutbah Jumat
Sumber video: https://www.youtube.com/watch?v=jp0G53OvjLA
Mari Berinfaq untuk NaajiyaTV
NaajiyaTV membutuhkan dukungan kaum Muslimin untuk memenuhi biaya sewa satelit dan operasional siaran. Dengan dukungan tersebut, berbagai program dakwah dan pendidikan Islam dapat terus disiarkan serta menjangkau masyarakat di berbagai daerah.
Infaq Sewa Satelit dan Operasional NaajiyaTV
🏧 Bank Syariah Indonesia (BSI)
Atas nama: NaajiyaTV
Nomor rekening: 111-1197551
Kode bank: 451
Konfirmasi Transfer
📱 WhatsApp: 0819-4424-6565
🔗 Tautan konfirmasi: https://wa.me/6281944246565
Semoga setiap infaq menjadi amal jariah dan sebab tersebarnya ilmu yang bermanfaat. Semoga Allah ﷻ memberikan balasan terbaik, memberkahi harta para donatur, dan menerima seluruh amal kebaikan tersebut.
Jazakumullahu khairan.
▪️▪️▪️▪️▪️▪️
Belum Ada Komentar
Tinggalkan Komentar
Email tidak akan dipublikasikan. Komentar akan tampil setelah disetujui admin.